Senin, 06 Oktober 2014

KHUTBAH IDUL ADHA 1435 H

KHUTBAH IDUL ADHA 1435 H


MOMENTUM HAJI UNTUK KETAATAN, PENGORBANAN, DAN PERSATUAN UMAT
Wahyudi Ibnu yusuf

Disampaikan di Masintan, Kalua Tabalong. Sabtu, 4 Oktober 2014
اللهُ أكْبَرُ × 9
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلاً،
 لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلَهَ إِلاًّ اللَّهُ اللهُ أكْبَرُ، الله أكبر وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.
أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
الَلَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.
اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh 

Hari ini, 10 Dzulhijjah 1435H, kaum muslimin di seluruh dunia sedang merayakan hari raya Idul Adha mengiringi ibadah haji, puncak ibadah dalam syariat Islam setelah jihad fi sabilillah. Pada hari ini  sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul di Mina untuk melempar jumrah, setelah kemarin wukuf di Arafah, dan bermalam di Muzdalifah, dalam rangkaian manasik haji. Para jamaah haji mengenakan pakaian ihram yang sama dan mengucapkan kalimat talbiyah yang sama, melaksanakan perintah Allah Swt:
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا …mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah….(QS. Ali Imran 97).
Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh


Hari ini disebut hari berkurban atau yaumun nahar karena para jamaah haji menyembelih hewan-hewan kurban, sebagai satu syi’ar dengan menyebut asma Allah ketika menyembelih hewan kurban.  Allah Swt berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka Dirikanlah shalat Karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (QS. Al Kautsar).
Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh <p> </p>
Empat Pelajaran Penting dalam Momentum Haji

Pelajaran yang bisa kita ambil dalam momentum ibadah ibadah haji, Idul Adha, dan kurban adalah sebagai berikut:
Pelajaran pertama, umat Islam adalah umat yang dibangun di atas kalimat tauhid Lailahaillallah Muhammad Rasulullah.
Kalimat Talbiyah adalah kalimat deklarasi para jamaah haji bahwa mereka memenuhi panggilan Allah SWT ke tanah suci untuk memuji, mengagungkan, dan mentauhidkan-Nya.
Haji sebagai prosesi ibadah telah menyatukan sikap dan kalimat para jamaah yang datang dari latar belakang berbeda-beda. Apapun bangsa, bahasa, warna kulit, jabatan, dan status sosial mereka, dengan pakaian ihram yang sama, serentak mereka mendeklarasikan sikap dan tindakan mereka memenuhi panggilan Allah SWT.: Labbaika Allahumma labbaik, labbaika laa syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syarika laka…(Kupenuhi panggilan-Mu ya Allah, Kupenuhi panggilan-Mu, kupenuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, kupenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, segala nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu)…

Oleh karena itu, sepulang kembali ke tanah air, alangkah indahnya bila para jamaah haji tetap dalam satu kesatuan tauhid, tidak berpecah-belah ke dalam golongan masing-masing.  Apalagi, bangsa Indonesia sedang menghadapi krisis kepemimpinan. Ada geliat sistematis dari kalangan minoritas non muslim untuk mengambil alih kepemimpinan politik di negeri ini. Fenomena Ahok dan sejumlah gubernur non muslim di propinsi yang mayoritas muslim dan kuatnya kelompok Kristen dan Katolik di belakang Presiden Jokowi adalah tanda yang nyata. Kabarnya mereka mentargetkan tahun 2019 NKRI harus dipimpin presiden Kristen. Ini tidak bisa dianggap remeh.
Pelajaran penting mengapa non muslim memimpin negeri yang 85 % muslim ini, tidak lain karena system demokrasi. Demokrasi menjadikan siapapun memiliki kesempatan yang sama. Termasuk kesempatan minoritas mentirani mayoritas. Sementara dalam system islam hanya orang islam saja yang boleh memimpin kaum muslimin. Allah berfirman:
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan/menguasai orang-orang yang beriman (QS. an-nisa: 141)
Oleh karena itu umat islam harus bersatu menolak demokrasi dan menggantinya dengan system islam. Bukan terjebak pada ‘gelanggang pertarungan’ dalam ring demokrasi, yang memang dirancang oleh musuh-musuh Islam untuk mengalahkan islam dan umatnya. Bayangkan jika 85 % penduduk negeri ini bersatu menuntut islam maka bisa jadi besok hari, negeri ini akan menjadi negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam naungan syari’ah Islam
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al a’araf : 96)
Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh<p> </p>
Pelajaran kedua: Ketaatan dan pengorbanan
Inti setiap ibadah adalah ketaatan dan pengorbanan, termasuk ibadah haji dan  qurban. Bahkan ibadah haji adalah puncak pengorbanan setelah jihad fi sabilillah. Setiap jama’ah harus ikhlas menabung bertahun-tahun untuk berangkat ke tanah suci. Meninggalkan tanah air, tak jarang bahkan sudah menyiapkan diri untuk tidak kembali ke tanah air.
Kurban adalah peribadatan yang diunggulkan pada hari raya Idul Adha.  Idul Adha sendiri maknanya adalah, kembali berkurban, yakni menyembelih kambing, sapi, atau onta, dengan syarat-syarat tertentu setelah sholat Iedul Adha.  Diriwayatkan dari 'Aisyah Ra. ia berkata, bahwa Nabi Saw bersabda: "Tidak ada suatu amalan pun yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Qurban, lebih dicintai Allah selain dari menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan kurban itu kelak di hari Kiamat akan datang beserta tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima di sisi Allah, maka beruntunglah kalian semua dengan pahala qurban itu." (HR. Tirmidzi, no: 1413)

Oleh karena itu, setiap muslim yang mampu sangat dianjurkan berkurban. Kepada yang enggan berkurban padahal mampu, Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
 "Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban, tapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia dekat-dekat di musholla (tempat shalat) kami." (HR. Ahmad, no: 7924).
Pelajaran paling penting dari ibadah qurban adalah ketaatan total kepada Allah. Bahkan terhadap perintah yang menurut logika kita tidak masuk  akal. Sebagaimana Nabi Ibrahim memenuhi seruan Allah untuk  menyembelih putra kesayangannya, Ismail ‘alaihissalam. Logika apa yang bisa menjelaskan “seorang ayah harus menyembelih anaknya sendiri”. Jika bukan karena landasan keimanan dan ketaatan kepada Allah mungkin kita akan berkata  “ Allah tidak adil, perintahnya tidak berperikemanusiaan, syari’atnya tidak masuk akal, tidak layak diterapkan, dan seterusnya”.
Disinilah pentingnya kita ‘menyembelih’ kesombongan kita. Kesombongan bahwa manusia lebih pantas mengatur dirinya sendiri, sembari mencampakkan aturan Allah. ‘menyembelih’ anggapan bahwa syariat Allah hanya layak untuk zaman unta, bukan zaman modern seperti sekarang. Menyembelih anggapan aturan Allah hanya layak untuk bangsa arab, anggapan bahwa syariat Allah tidak layak untuk negeri yang majemuk seperti Indonesia. Na’udzubillah

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh<p> </p>
Pelajaran ketiga: Syiar dan Dakwah
Ibadah Haji adalah satu kesatuan dengan ibadah kurban dan sholat Iedul Adha sebagai hari raya umat Islam. Pelaksanaan ketiganya yang merupakan satu kesatuan ibadah kepada Allah Swt adalah syiar, kekuatan, dan dakwah umat Islam. Allah Swt berfirman:
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
 “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 158).

Syi'ar-syi'ar Allah adalah : tanda-tanda atau tempat beribadah kepada Allah. As Shabuniy dalam Shafwatut Tafaasiir menerangkan makna kalimat Sya’aira adalah semua urusan agama untuk beribadah kepada Allah seperti thawaf (berjalan berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali), sa’i (berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali antara bukit Shafwa dengan bukit Marwah), adzan (panggilan untuk shalat jamaah), dan lain-lain.  

Syi’ar-syi’ar Allah dalam ibadah haji adalah seluruh prosesi dalam manasik haji, baik itu dimulai dengan mengenakan pakaian ihram dan berjalan dari miqat, bermalam di Mina pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah), wukuf di padang Arafah (9 Dzulhijjah), bermalam di Muzdalifah (malam 10 Dzul Hijjah), lalu melempar Jumrah sebagai simbolisasi melempar syetan di Mina (10, 11, 12 Dzulhijjah), melaksanakan tahalul (dengan memotong/mencukur rambut), serta thawaf wada’ sebagai perpisahan. Termasuk di antara syiar haji adalah menyebut-nyebut asma Allah SWT dalam  menyembelih korban serta memakannya dan membaginya kepada fakir miskin sebagaimana firman Allah Swt (QS. Al Hajj 28).

Syiar ini menjadi penting disaat kaum muslimin banyak yang mengalami krisis identitas. Minder atau rendah diri mengaku sebagai muslim, malu mengenakan pakaian yang sesuai syariat, enggang menyampaikan kebenaran dimanapun dan kapanpun. Al quran hanya digunakan ketika sumpah jabatan, tetapi al quran ditelantarkan dalam kancah kehidupan. Al quran dilupakan ketika membahas UU di DPR, dan Perda di DPRD, dan seterusnya.

Allahu Akbar..Allahu Akbar.. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar..Allahu Akbar Walillahilhamd...

Ma’âsyira al-Muslimîn rahimakumul-Lâh<p> </p>
Pelajaran keempat: persatuan umat
Ibadah haji adalah symbol persatuan umat. Bayangkan 2 juta lebih Kaum muslimin dengan warna kulit yang berbeda, suku yang beragam, dari berbagai bangsa, dan berbagai penjuru memenuhi seruan rabb yang sama. Menjadi tamu Allah. Dikumpulkan di tempat yang sama ketika wuquf di Arafah, sebagai gambaran padang mahsyar. Mengumandangkan takbir, tahmid, tahlil, dan talbiyah yang sama. Umat islam juga menghadap kiblat yang sama, membaca al quran yang sama, mengikuti taudalan yang sama, Muhammad saw, dan  in sya Allah akan dikumpulkan di tempat terindah yang menjadi puncak kenikmatan, yaitu al-jannah.
Umat Islam adalah ummmah wâhidah(umat yang satu). Umat Islam yang digambarkan Rasulullah Saw ka al-jasad al-wâhid (laksana satu tubuh). Namun kenyataan, tubuh umat islam islam saat ini tercerai berai dalam lebih 50 Negara bangsa. Bagai tubuh yang terpisah dengan kepala, tangan, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Akibatnya,  kita tak berdaya ketika ratusan ribu nyawa kaum musimin ditumpahkan, kita tak dapat berbuat banyak ketika Gaza dibombardir Israel. Anehnya saat ini negeri-negri Islam termasuk Arab Saudi, justru bersatu dibawah komando Amerika membombardir Suriah dan Irak dengan alasan memburu ISIS. Padahal yang dituju Amerika bukan hanya ISIS, tapi juga mujahidin mukhlis yang sedang berjuang membebaskan rakyat syam dari cekraman rezim syi’ah Nushairiyah, Basar al Asad laknatullahu alaihi. Sembari Amerika menghadang tegaknya khilafah yang sesungguhnya. Karena para muhahidin sudah berikrar akan membangun khilafah islamiyah di atas reruntuhan rezim al Asad.
Sunguh umat Islam saat ini bagaikan makanan yang diperebutkan, tanpa ada pembela dan pelindung. Disinilah pentingnya persatuan umat dalam wadah politik. Meruntuhkan sekat-sekat nasionalisme yang memenjarakan kita, dan  mengangkat seorang pemimpin yang akan melindungi umat, menerapkan syariat, dan menyebarkan syi’ar-syiar Islam ke penjuru alam.
Semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya kepada kaum Muslimin dengan tegaknya Khilafah Rasyidah ‘alâ minhâj al-nubuwwah dalam waktu yang dekat. Semoga pula kita termasuk hamba-hamba-Nya yang istiqamah, berjuang penuh kesungguhan, dan berkurban penuh keikhlasan dalam rangka mewujudkan penerapan syariah dan tegaknya Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Hasbunal-Lâh wa ni’mal wakîl ni’ma al-mawlâ wa ni’ma al-nashîr, lâ haula wa lâ quwwata illa bil-Lâh. Aqûlu qawlî hadza wa astaghfirul-Lâh al-‘azhîm lî wa lakum!

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا، أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ
اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْناَ مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ اللهُ أَكْبَرْ وَللهِ الْحَمْدُ
Disarikan dengan sedikit tambahan dari materi khutbah KH. Muhammad al Khaththat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar