Beberapa orang berharap ta’aruf yang dilakukannya membuahkan hasil; ketemu jodohnya. Bahkan ada yang berharap ta’aruf yang dilakukan adalah yang pertama dan yang terakhir.
Tapi apa daya jika ternyata belum jodoh. Tidak selamanya akhwat mau menerima dan merasa cocok dengan ikhwan lawan ta’arufnya, begitu pun sebaliknya. Baik dengan memberikan alasan logis, bisa diterima, syar’i, maupun dengan alasan yang tidak logis, dan tidak syar’i.
Apa misal tidak syar’i? Menurut ana, contohnya adalah karena factor usia, pekerjaan, bentuk fisik, sikap, ucap dan lainnya. Di luar prioritas empat criteria yang dianjurkan Rasulullah yaitu agama, keturunan, kecantikan, dan...
Nah, bagaimana kalau seorang ikhwan ditolak oleh seorang akhwat? Macam-macam reaksinya. Dipengaruhi oleh dua factor. Pertama, niat. Jika niat ta’arufnya benar sebagaimana benarnya niat untuk menikah, semoga si ikhwan menyadari bahwa gagal atau tidaknya dia ta’aruf, merupakan bentuk ibadah.
Maka, niat dan ta’aruf yang dilakukannya adalah bentuk ibadah. Dan ibadahnya tidak akan luput dari catatan malaikat. Kedua, kondisi hati si ikhwan. Ketegaran, kebesaran, dan kemampuan si ikhwan mengelola emosinya, menentukan sikapnya dalam menerima atau tidaknya penolakan ta’aruf itu. Ikhwan yang cengeng, akan bermasalah dengan penolakan itu.
Kecewa dan bersedih hati saat ditolak ta’arufnya, boleh-boleh saja. Asalkan tidak berlarut-larut. Adalah manusiawi kecewa jika tak mendapatkan apa yang diinginkan. Namun semua reaksi itu (kecewa, sedih) haruslah dalam batas normal.
Jangan sampai karena penolakan itu, kita lantas patah semangat untuk beraktivitas, apalagi dalam ibadahnya. Seolah-olah hidup tiada artinya. Tak lagi berguna dalam hidup ini. Menangisi nasib berlarut-larut, dan seterusnya.
Lalu bagaimana jika kita di tolak saat ta’aruf sama dia ? Pertama, enjoy aja. Yakinlah bahwa Allah telah menyiapkan jodoh atau pasangan untuk kita pada saat yang tepat, bisa jadi orang lain atau bahkan dia. Lho kok? Iya. Banyak kasus pada akhirnya, jodoh kita adalah akhwat yang pernah menolak kita. Hanya waktunya saja yang belum tepat. Lalu perlukah berdoa untuk tetap bisa? Misalnya dengan melantunkan doa “Ya Allah, mohon bukakanlah kembali pintu hati si fulanah agar dia mau menerima saya?” Hm, tak usah. Tapi lantunkanlah doa “Ya Allah berilah jodoh terbaik untuk hamba”.
Jangan merasa diri kita sendiri yang mengalami penolakan itu. Banyak orang yang juga ditolak, bahkan saat sudah di ambang pernikahan, bisa jadi batal.
Kedua, bangkit. Jangan sampai penolakan itu memengaruhi semangat hidup, semangat dakwah, dan semangat ibadah kita. Dunia belum berakhir dengan penolakan itu. Rugi kalau penolakan itu berdampak negative pada diri kita. Ingat, dunia tak selebar daun kelor. Akhwat ada yang baik dan ada yang menor. Hehe… akhwat tak hanya dia saja. Masih banyak akhwat yang lain. Pegang kuat semboyan, ‘gugur satu tumbuh seribu’.
Buang jauh rasa sedihmu, jangan biarkan penolakan itu mengganggu, dan melayukan harimu.
Cari lagi akhwat yang lain. Siapa tahu dia adalah jodoh kita. Jalankan lagi ta’aruf. Saat ditolak tak usah berlinang. Jemput akhwat lain dan bawa pulang.
Segera lupakan dia yang menolak kita. Jangan terpaku pada satu akhwat saja. Kadang kita terpaku menanti begitu lama pada satu pintu yang sudah tertutup, tanpa menyadari ada pintu lain yang terbuka. Dan menunggu kita memasukinya.
JOSH (Jomblo Sampai Halal)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar