Kamis, 14 Agustus 2014

Soal Jawab: Zakat Barang Perdagangan



بسم الله الرحمن الرحيم
Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim ‘Atha` bin Khalil Abu ar-Rasytah Atas Pertanyaan di Akun 
Facebook
Beliau “Fiqhyiun”

Jawaban Pertanyaan: Zakat Barang Perdagangan
Kepada Imad M. Sa’ad

Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Semoga Allah memuliakan Anda dengan Islam dan memuliakan Islam melalui tangan Anda. Saya berdoa kepada Allah agar menjadi bagian dari orang yang membaiat Anda dengan khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Saya punya pertanyaan tentang zakat, zakat barang dagangan atau zakat harta. Apakah boleh dikeluarkan seluruhnya atau sebagiannya sebelum berlalu haulnya dan apakah haul menjadi syarat untuk mengeluarkannya?
Semoga Allah menolong Anda di dalam apa yang di situ ada kebaikan untuk Islam dan kaum Muslimin di dunia dan akhirat.
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.

Jawab:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Berlalunya satu haul adalah syarat dalam sebab zakat “nishab”. Jadi jika terealisasi syarat yakni berlalu satu haul atas sebab yakni “nishab”, tanpa berkurang, maka telah wajib zakat. Akan tetapi seandainya zakat itu dikeluarkan sebelum wajibnya maka pengeluaran ini boleh berdasarkan dalil-dalil syara’ yang dinyatakan tentangnya:
-                      Al-Baihaqi telah mengeluarkan di dalam Sunan al-Kubra dari Ali:
«أَنَّ الْعَبَّاسَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَأَذِنَ لَهُ فِي ذَلِكَ»
“Bahwa al-‘Abbas ra. bertanya kepada Rasulullah saw tentang penyegeraan shadaqah sebelum berlalu haul maka Rasul saw mengizinkan untuknya dalam (melakukan) hal itu.”

-                      Ad-Daraquthni telah mengeluarkan di dalam Sunan-nya dari Hujrin al-‘Adawi dari Ali, ia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada Umar:
«إِنَّا قَدْ أَخَذْنَا مِنَ الْعَبَّاسِ زَكَاةَ الْعَامِ عَامِ الْأَوَّلِ»
“Kami telah mengambil dari al-‘Abbas zakat tahun ini pada tahun pertama (lalu).”

-                      Ad-Daraquthni telah mengeluarkan dari Musa bin Thalhah dari Thalhah bahwa Nabi saw bersabda:
«يَا عُمَرُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَمَّ الرَّجُلِ صِنْوُ أَبِيهِ؟ إِنَّا كُنَّا احْتَجْنَا إِلَى مَالٍ فَتَعَجَّلْنَا مِنَ الْعَبَّاسِ صَدَقَةَ مَالِهِ لِسَنَتَيْنِ»
“Ya Umar tidakkah engkau tahu bahwa pamannya seorang laki-laki itu adalah saudara sekandung bapaknya? Sungguh jika kami memerlukan harta maka kami percepat dari al-‘Abbas shadaqah hartanya untuk dua tahun.”

Mereka berbeda pendapat tentang al-Hakam dalam isnadnya, dan yang benar dari al-Hasan bin Muslim secara mursal.
Berdasarkan hal itu maka penyegeraan pengeluaran zakat sebelum wajibnya adalah perkara yang boleh.
Perlu diketahui, kebanyakan ulama mengatakan demikian.


Saudaramu

Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

11 Syawal 1435 H
07 Agustus 2014 M

Soal Jawab: Thariqah Syar’iy untuk Menegakkan al-Khilafah dan as-Sulthân al-Mutaghallib



بسم الله الرحمن الرحيم
Jawab Soal

Thariqah Syar’iy untuk Menegakkan al-Khilafah dan as-Sulthân al-Mutaghallib

Pertanyaan:
Ada beberapa komentar di beberapa situs yang isinya “bahwa Hizbut Tahrir menentukan thariqah “thalab an-Nushrah” untuk menegakkan al-Khilafah dan berpegang teguh dengannya, dan Hizbut Tahrir tidak mengetahui thariqah syar’iy lainnya… padahal ada thariqah lainnya, yaitu “thariqah as-sulthân al-mutaghallib” yakni orang yang menegakkan negara menggunakan kekuatan dan perang…” Mereka juga mengatakan bahwa Hizbut Tahrir menolak proklamasi al-Baghdadi karena dorongan ‘ashabiyah hizbiyah, dimana Hizbut Tahrir tidak menilainya sebagai khilafah yang syar’iy kecuali jika Hizb yang mendirikannya…” Apakah ada jawaban yang memadai seputar ucapan-ucapan ini? Semoga Allah memberi Anda balasan yang lebih baik.

Jawab:
  1. Hizbut Tahrir tidak menentukan thariqah syar’iy untuk menegakkan al-Khilafah, akan tetapi syara’-lah yang menentukannya. Sirah Rasulullah saw mengatakan hal itu sejak dimulai dakwah kepada Islam hingga tegaknya daulah… Sebelum tegaknya daulah, didahului dengan thalab an-nushrah oleh Rasulullah saw dari para ashhâbul quwwah wa al-man’ah, yang mereka membentuk pilar-pilar negara sesuai fakta wilayah di seputar mereka. Karena itu, Rasul saw menyengaja mendatangi kabilah-kabilah yang kuat, menyeru mereka kepada Islam dan memintanushrah (pertolongan) mereka seperti yang beliau lakukan dengan meminta pertolongan Tsaqif, Bani ‘Amir, Bani Syaiban dan kaum Anshar di Madinah. Adapun kabilah-kabilah kecil, maka beliau saw mencukupkan dengan menyerunya kepada Islam saja… Rasulullah saw terus melakukan hal itu meski berbagai kesulitan dan kesusahan harus beliau saw hadapi. Pengulangan perkara yang di dalamnya ada kesulitan menunjukkan secara syar’iy bahwa perkara itu adalah fardhu sebagaimana yang ada dalam ketentuan ushul… Begitulah, Rasulullah terus dalam melakukan thalab an-nushrah dari ahlul quwwah wal man’ah. Satu kabilah membuat kaki beliau berdarah-darah. Satu kabilah lainnya menolak beliau. Kabilah lainnya memberikan syarat kepada beliau. Meski demikian, beliau saw terus teguh di atas apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepada beliau tanpa mengubah thariqah itu kepada thariqah lainnya. Misalnya beliau menyuruh para sahabat untuk memerangi penduduk Mekah, atau memerangi sebagian kabilah guna menegakkan daulah di tempat mereka. Padahal para sahabat beliau saw adalah orang-orang gagah berani yang tidak takut apa pun kecuali hanya kepada Allah. Akan tetapi, Rasul saw tidak memerintahkan hal itu. Namun beliau terus melakukan thalab an-nushrah mencari pertolongan dari ahlul quwwah wal man’ah, hingga Allah memudahkan kaum Anshar kepada beliau lalu mereka membaiat beliau dengan baiat al-‘Aqabah kedua, setelah Mush’ab bin Umair ra. berhasil dalam tugasnya di Madinah Munawarah atas perintah Rasulullah saw. Disamping taufik dari Allah SWT kepadanya dengan dukungan tokoh-tokoh dari ahlul quwwah yang menolongnya, Mush’ab bin Umair ra. dengan izin Allah telah berhasil memasukkan Islam ke rumah-rumah Madinah dan mewujudkan di sana opini umum untuk Islam sehingga opini umum berangkulan dengan baiat kaum Anshar, dan berikutnya Rasul saw pun menegakkan daulah di Madinah dengan baiat yang murni dan bersih dan dengan penerimaan hangat kepada Rasul saw dari penduduk Madinah Munawarah.
Inilah thariqah syariy untuk menegakkan daulah dan hukum asal yang harus diikuti. Hukum asal dalam perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’. Seorang muslim jika ia ingin mengetahui bagaimana ia shalat, maka ia mempelajari dalil-dalil shalat. Dan jika ia ingin berjihad maka ia mempelajari dalil-dalil jihad. Dan jika ia ingin menegakkan daulah, maka ia harus mempelajari dalil-dalil penegakan daulah dari perbuatan Rasulullah saw. Tidak ada dinyatakan dari Rasulullah saw thariqah untuk menegakkan daulah kecuali yang dijelaskan di dalam sirah beliau saw. Di dalamnya ada dakwah (seruan) kepada ahlul quwwah wal man’ah yang membentuk pilar-pilar negara menurut realita wilayah sekitarnya. Jadi mendakwahi (menyeru) mereka kepada Islam, thalab an-nushrah (meminta pertolongan) mereka dan baiat mereka dengan ridha dan ikhtiyar setelah benar-benar ada opini umum yang terpancar dari kesadaran umum di tengah mereka di wilayah mereka …
Begitulah, thariqah syar’iy untuk menegakkan al-Khilafah telah ditentukan di dalam Islam dengan jelas. Jelas dari hal itu bahwa para pemilik proklamasi itu tidak mengikuti thariqah ini.
  1. Adapun masalah as-sulthân al-mutaghallib (penguasa yang mengambil kekuasaan dengan kekuatan) yang ada di dalam kitab-kitab fikih, maka istilah itu wajib dipahami maknanya. Bukan sekadar mengulang-ulang istilah as-sulthân al-mutaghallib tanpa memahami kapan dan bagaimana mungkin secara syar’iy hal itu menjadi benar-benar tegak dan sebaliknya bagaimana hal itu secara syar’iy tidak tegak, bahkan menjadi bencana bagi pemiliknya!
Sesungguhnya, as-sulthân al-mutaghallib bisa menjadi berdosa atas tumpahnya darah kaum Muslimin dan penindasan serta paksaan. Juga dengannya tidak tegak khilafah secara syar’iy karena menyalahi thariqah yang syar’i…. hanya saja, diantara para fukaha’ ada yang berpandangan bahwa as-sulthân al-mutaghallib ini pemerintahannya menjadi syar’iy jika terealisasi padanya syarat-syarat dan yang paling menonjol adalah:
  1. Mendominasi di negeri yang memiliki pilar-pilar negara sesuai wilayah sekitarnya. Sehingga ia memiliki kekuasaan yang stabil di negeri itu dan ia bisa menjaga keamanan negeri tersebut baik dalam dan luar negeri terhadap wilayah sekitarnya.
  2. Menerapkan Islam dengan adil dan baik di negeri tersebut. Berjalan secara baik diantara masyarakat, sehingga masyarakat mencintai mereka dan ridha terhadap mereka.
  3. Masyarakat di negeri itu membaiatnya dalam bentuk baiat in’iqad dengan ridha dan ikhtiyar, bukan dengan paksaan dan keterpaksaan, dengan syarat-syarat baiat yang diantaranya bahwa baiat itu pada dasarnya berasal dari penduduk negeri itu, bukan dari sejumlah sulthân mutaghallib. Sebab baiat yang syar’iy adalah seperti itu dengan meneladani Rasul saw. Rasul saw pada asasnya memberi perhatian atas mengambil baiat orang-orang Anshar penduduk Madinah Munawarah dengan ridha dan ikhtiyar, bukan mengambil baiat dari para sahabat beliau kaum Muhajirin. Baiat ‘aqabah kedua memenuhi hal itu.
Begitulah, as-sulthân al-mutaghallib terus berdosa, dan tidak tegak secara syar’iy kecuali setelah terpenuhi ketiga syarat di atas. Pada saat itu, as-sulthân al-mutaghallib menjadi legal (masyrû’) sejak saat terjadinya baiat itu dengan ridha dan ikhtiyar. Ini adalah realita as-sulthân al-mutaghallib. Mudah-mudahan Anda memahaminya dengan sejelas-jelasnya… dari situ jelas bahwa syarat-syarat tidak terpenuhi untuk pemilik proklamasi itu, akan tetapi mereka memaksakan diri mereka sendiri dan proklamasi mereka dilakukan secara tidak benar.
Dari penjelasan sebelumnya, jelaslah bahwa mereka tidak mengikuti thariqah syar’iy yang shahih. Juga tidak mengikuti thariqah as-sulthân al-mutaghallib sekalipun… Mereka memproklamasikan khilafah tidak sesuai dengan ketentuannya, dan sebelum terpenuhi syarat-syaratnya. Maka proklamasi itu tidak ada bobot dan nilainya secara syar’iy. Bahkan itu merupakan laghwun seakan-akan tidak ada, sehingga tidak mengubah realita mereka akan tetapi realita mereka terus seperti sebelumnya sebagai tanzhim bersenjata.
  1. Adapun bahwa Hizb tidak menilai sebagai khilafah yang syar’iy kecuali jika didirikan oleh Hizb, maka itu merupakan ucapan yang lebih rapuh dari sarang laba-laba! Sesungguhnya itu tidak lain adalah pengarahan setan untuk sebagian orang yang berpikiran cekak dan pendek, serta orang yang kehilangan mata dan penglihatan… Sesungguhnya yang diinginkan Hizb adalah ditegakkannya Khilafah yang murni dan bersih tidak terdistorsi. Kami adalah “ibunya anak-anak”, agenda kami adalah agar anak-anak tidak dibunuh atau didistorsi… agar terealisasi untuk anak-anak itu kekuatan, kesehatan, pemeliharaan yang baik dan perhatian yang tinggi, dan agenda kami bukan siapa yang memeliharanya… Sungguh kami ingin agar khilafah ditegakkan dengan benar, sehingga menjadi khilafah yang agung bobotnya, kuat kekuasaannya, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya ke luar negeri dengan dakwah dan jihad. Sehingga dengan begitu benar-benar menjadi khilafah rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian yang dijanjikan oleh Allah SWT dan disampaikan oleh Rasul-Nya saw kabar gembira berdirinya setelah pemerintahan diktator… Siapa saja yang menegakkannya hal itu dengan benar, baik kami atau selain kami, maka ia didengar dan ditaati, dan bumi pun dengan izin Allah akan mengeluarkan simpanannya dan langit menurunkan kebaikannya. Islam dan penduduknya menjadi mulia dan kekufuran dan penganutnya menjadi hina, dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana…
Begitulah, kami menginginkan khilafah kembali dengan bersih dan diberkahi seperti yang dibawa oleh Rasulullah saw dan diikuti oleh Khulafaur Rasyidin ridhwanullah ‘alayhim… Khilafah yang dicintai oleh Allah SWT, Rasul-Nya saw dan kaum mukminin. Khilafah yang memasukkan kebahagiaan di hati kaum Muslimin dan memasukkan kemuliaan di negeri-negeri mereka … Dan bukan proklamasi nama khilafah yang terdistorsi, yang kotor dengan darah kaum muslimin tidak di atas ketentuan yang benar.
Sungguh kami merasa sedih, khilafah yang semestinya mengguncang dunia dan membuat kaum kafir imperialis gemetar, justru menjadi sesuatu yang diperolok-olokkan dan disertai penghinaan bobotnya, bahkan tanpa bobot. Sehingga Amerika Serikat mendeklarasikan komentar terhadap proklamasi itu “bahwa itu bukan apa-apa”, bukannya menangis darah ketika khilafah itu diproklamasikan… Kami juga merasa sedih, bahwa orang-orang yang telah memiliki khilafah itu, mereka memiliki bobot yang agung dan berharap demikian, namun akhirnya diantara mereka ada yang memandang proklamasi ini sebagai kejadian yang tidak punya bobot…
Sesungguhnya Hizb merupakan penjaga yang terpercaya untuk Islam, tidak takut di jalan Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. Hizb berkata kepada orang yang berbuat baik “Anda telah berbuat baik” dan mengatakan kepada orang yang melakukan keburukan “Anda telah berbuat buruk”. Hizb tidak mengharapkan mashlahat kepartaian dan tidak pula kerakusan duniawi. Bahkan Hizb memandang dunia seluruhnya seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw dalam hadits yang telah dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud:
«مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا»
“Tidak ada untukku dan untuk dunia, tiada aku di dunia melainkan seperti orang yang sedang menempuh perjalanan berteduh di bawah pohon lalu ia beristirahat sejenak dan meninggalkannya kembali”
Dunia dalam pandangan Hizb adalah interval waktu di mana Hizb berteduh di bawah pohon itu, sehingga Hizb konsern untuk menghabiskannya dalam perjuangan (amal) shalih, jujur dan sungguh-sungguh untuk menerapkan hukum-hukum syara’ dengan tegaknya al-Khilafah secara benar dengan izin Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
  1. Sebagai penutup, Hizbut Tahrir menghabiskan lebih dari enam puluh tahun berjuang untuk menegakkan al-Khilafah dengan thariqah yang ditempuh oleh Rasulullah saw. Di jalan itu, Hizb menghabiskan tahun-tahun yang panjang di penjara-penjara orang-orang zalim dan penindas, di bawah penyiksaan dari para thaghut, sehingga syahidlah di antara syabab yang mencari syahid dan orang yang disiksa mengalami siksaan… dan dalam perjalanannya Hizb tetap teguh di atas kebenaran meski terjadi penindasan dan serangan… Jadi Hizbut Tahrir yang keadaannya seperti ini, apakah Anda lihat menolak suatu jamaah yang menegakkan khilafah secara benar, baik yang mendirikan itu Hizb atau pihak lain? Sungguh Hizb tidak menolak, bahkan bersyujud syukur kepada Allah… Akan tetapi pada waktu yang sama, Hizb berdiri mengawasi siapa saja yang melontarkan nama al-Khilafah secara tidak benar, sebagai sebuah pendistorsian terhadap khilafah dan penghinaan bobotnya. Hizb dengan izin Allah akan tetap menjadi batu karang kokoh di depan setiap makar dan tipu daya pendistorsian khilafah atau penghinaan bobotnya. Khilafah akan ditegakkan, dengan izin Allah, melalui tangan-tangan kesatria yang perdagangan dan jual beli tidak bisa melenakan mereka dari mengingat Allah, kesatria yang lebih berhak dan lebih layak untuk menegakkan khilafah, sehingga fajar khilafah menyeruak kembali bersinar.
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ *بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾
“Dan di hari (kemenangan) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Maha Perkasa lagi Penyayang.” (TQS ar-Rum [30]: 4-5)

14 Ramadhan 1435 H
12 Juli 2014 M

Tanggapan Amir Hizbut Tahrir Terhadap Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS



بسم الله الرحمن الرحيم
Silsilah Jawaban asy-Syaikh al-‘Alim Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah Amir Hizbut Tahrir atas Pertanyaan di Akun 
Facebook
 (https://www.facebook.com/Ata.abualrashtah) Beliau
“Politik”
Proklamasi Tegaknya al-Khilafah oleh ISIS

Kepada semua saudara yang mengirimkan permintaan penjelasan tentang proklamasi tegaknya al-Khilafah oleh ISIS… dan mohon maaf tidak dituliskan nama-nama Anda karena sangat banyak…
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Kami telah kirimkan sebelumnya jawaban pada waktu itu dan saya ingin ulangi kepada Anda:
Saudara-saudara yang dimuliakan,
  1. Sesungguhnya tanzhim (organisasi) apapun yang ingin memproklamirkan al-Khilafah di suatu tempat, yang wajib baginya adalah mengikuti thariqah Rasulullah Saw dalam hal itu. Diantaranya adalah, organisasi itu memiliki kekuasaan yang menonjol di tempat tersebut, yang menjaga keamanannya di dalam dan di luar negeri. Harus ada pilar-pilar negara di daerah yang di situ diproklamirkan al-Khilafah… Itulah yang dahulu ada pada Rasulullah Saw ketika beliau mendirikan Daulah Islamiyah di al-Madinah al-Munawarah: Kekuasaan di sana adalah milik Rasul Saw, keamanan dalam negeri dan luar negerinya dijamin dengan keamanan (kekuasaan) Islam, dan negara itu memiliki pilar-pilar negara di wilayah tersebut.
  2. Sementara itu, organisasi yang memproklamirkan al-Khilafah tersebut, tidak memiliki kekuasaan atas Suriah dan tidak pula atas Irak. Organisasi itu juga tidak merealisasi keamanan dan rasa aman di dalam negeri dan tidak pula di luar negeri, hingga orang yang dibaiat sebagai khalifah saja tidak bisa muncul di sana secara terbuka, akan tetapi keadaannya tetap tersembunyi seperti keadaannya sebelum proklamasi daulah! Ini menyalahi apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Rasulullah Saw, sebelum daulah tegak, boleh saja bersembunyi di goa Tsur. Akan tetapi setelah berdiri daulah, beliau Saw memelihara urusan-urusan masyarakat, memimpin pasukan, memutuskan perkara di antara orang-orang yang bersengketa, mengirim para utusan, dan menerima para utusan secara terbuka tanpa sembunyi. Jadi, sebelum berdiri daulah berbeda dengan sesudahnya… Begitulah, proklamasi organisasi itu atas al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun) tanpa isi. Itu sama saja dengan yang sebelumnya dalam hal proklamasi al-Khilafah, tanpa realita riil di lapangan dan tidak memiliki pilar-pilar. Semua itu hanya untuk memuaskan apa yang ada di dalam diri mereka. Yang ini memproklamirkan diri sebagai khalifah. Yang itu memproklamirkan diri sebagai al-Mahdi… dan sebagainya, tanpa pilar-pilar, tanpa kekuasaan dan tanpa menguasai keamanan dan rasan aman…!
  3. Sesungguhnya al-Khilafah adalah negara yang punya bobot. Syariah telah menjelaskan thariqah pendiriannya dan tata cara menggali hukum-hukumnya tentang pemerintahan, politik, ekonomi, hubungan-hubungan internasional… Bukan hanya proklamasi nama tanpa isi, yang dilontarkan di situs-situs elektronik atau media massa-media massa audio visual. Proklamasi al-Khilafah merupakan kejadian agung yang mengguncang dunia. Akarnya menancap dalam di bumi. Kekuasaannya menjaga keamanan dalam dan luar negeri atas wilayah tersebut, menerapkan Islam di dalam negeri dan mengembannya ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad…
  4. Proklamasi yang terjadi adalah ucapan yang sia-sia (laghwun), tidak memajukan dan tidak memundurkan dalam hal realita organisasi ISIS. ISIS adalah gerakan bersenjata, baik sebelum proklamasi dan setelah proklamasi. Posisinya seperti gerakan-gerakan bersenjata lainnya yang saling memerangi satu sama lain dan juga berperang melawan rezim, tanpa satu pun dari faksi-faksi itu bisa meluaskan kekuasaan atas Suria atau Irak atau keduanya. Seandainya ada faksi dari faksi-faksi itu, termasuk ISIS, yang mampu meluaskan kekuasaannya atas wilayah yang memiliki pilar-pilar negara dan memproklamasikan al-Khilafah serta menerapkan Islam, niscaya layak untuk dibahas guna dilihat jika al-Khilafah yang didirikannya sesuai hukum-hukum syariah, sehingga pada saat itu diikuti. Hal itu karena penegakan al-Khilafah merupakan kewajiban atas kaum Muslimin dan bukan fardhu atas Hizbut Tahrir saja. Maka siapa saja yang berhasil menegakkannya dengan benar, ia diikuti… Fakta yang terjadi saat ini tidak lah seperti itu. Semua faksi bersenjata (milisi), di antaranya ISIS, tidak memiliki pilar-pilar negara, tidak memiliki kekuasaan atas wilayah, dan tidak menguasai keamanan dan rasa aman. Karena itu, proklamasi ISIS atas tegaknya al-Khilafah adalah ucapan sia-sia (laghwun), tidak layak diperhatikan untuk dibahas pada realitanya sebab sudah tampak jelas…
  5. Yang layak untuk diperhatikan dan dikaji adalah kekhawatiran adanya dampak negatif atas proklamasi ini, terkait ide al-Khilafah pada orang-orang yang berpikiran dangkal. Sehingga ide al-Khilafah pada diri mereka jatuh dari posisi sentralnya yang agung dan urgensitasnya bagi kaum Muslimin. Jatuh pada pemikiran yang rapuh, yang sekadar menjadi penyaluran perasaan-perasaan gelisah pada sebagian person. Maka salah seorang dari mereka berdiri di lapangan atau di medan atau di kampung, lalu memproklamirkan diri bahwa dia adalah khalifah, kemudian dia mengundurkan diri dan menyangka telah berbuat sebaik-baiknya! Maka al-Khilafah akan kehilangan urgensitas dan keagungannya pada hati orang-orang yang berpikiran dangkal dan menjadi tidak lebih dari nama bagus yang dijadikan sebutan bagi orang yang menginginkan tetapi tanpa isi… Inilah yang layak diperhatikan, khususnya saat di mana al-Khilafah telah makin dekat, lebih dekat dari sebelum-sebelumnya, dan kaum Muslimin telah menunggu pendiriannya dengan tidak sabar. Mereka melihat Hizbut Tahrir meniti jalan dalam urusannya, dengan berpegang teguh kepada thariqah Rasulullah Saw tentang tata cara pendirian al-Khilafah di al-Madinah al-Munawarah… Kemudian mereka melihat adanya interaksi dinamis dan ekspresif yang berpengaruh antara Hizbut Tahrir dengan umat yang mengasuhnya. Dari interaksi ini kaum Muslimin paham makna ukhuwah Islam. Mereka mencari kabar gembira akan kesuksesan Hizb dalam menegakkan al-Khilafah dan baiknya ri’ayah asy-syu’un dan menjadi benar-benar Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian… Pada saat yang demikian, justru datang proklamasi ini. Maka proklamasi itu mendatangkan potret kabur, jika bukan malah palsu, tentang realita al-Khilafah di benak orang-orang yang berpikiran dangkal di antara masyarakat…
  6. Semua itu memunculkan tanda tanya, bahkan banyak tanda tanya… seputar timing proklamasi ini tanpa kekuasaan yang nyata dan stabil bagi pemilik proklamasi; yaitu kekuasaan yang menjaga keamanan negara ini di dalam dan luar negeri. Begitulah yang terjadi di Facebook atau media massa… Timing ini mencurigakan, khususnya bahwa gerakan-gerakan bersenjata yang tegak bukan atas asas takatuliyun fikriyun (kelompok yang bersifat intelektual), membuat infiltrasi menjadi mudah. Masuknya orang-orang jahat dari Timur dan Barat di barisannya adalah mudah. Sudah diketahui bersama bahwa Barat dan Timur terus melakukan tipu daya terhadap Islam dan al-Khilafah. Kepentingan mereka adalah memalsukan potretnya. Jika mereka tidak bisa memadamkan namanya, maka mereka sangat mementingkan agar al-Khilafah tidak lain hanyalah nama yang digunakan oleh orang yang menginginkan tanpa isi sama sekali. Sehingga kejadian agung yang menampar kaum kafir menjadi sekadar nama yang dijadikan ejekan oleh musuh-musuh itu siang malam…!
  7. Atas semua yang diperbuat musuh-musuh jahat itu, kita tegaskan kepada musuh-musuh Islam dari Timur dan Barat, antek-antek dan para pengikutnya, serta orang-orang bodoh mereka, bahwa al-Khilafah yang telah memimpin dunia berabad-abad adalah sudah diketahui dan tidak majhul, kuat menghadapi distorsi bagaimanapun tipu daya dan konspirasi dilakukan.
﴿وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (TQS al-Anfal [8]: 30)

Allah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa telah mendatangkan untuk khilafah satu partai yang menghimpun orang-orang, yang perdagangan dan jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah. Mereka melingkupi khilafah dengan pikiran, pendengaran, dan penglihatannya. Mereka telah menyiapkan segala persiapan yang dibutuhkan untuk khilafah. Mereka istinbath hukum-hukum dan konstitusinya, serta struktur pemerintahan dan administrasinya. Mereka berjalan dalam upaya menegakkannya dengan meneladani sirah Rasulullah Saw tanpa menyimpang sehelai rambut pun… Mereka, dengan izin Allah, merupakan pagar yang menghalangi kekaburan tentang khilafah. Mereka layaknya batu cadas, yang dengan pertolongan Allah, dapat menghancurkan konspirasi-konspirasi kaum kafir, antek-antek, dan para pengikutnya. Mereka adalah para politisi yang memiliki kesadaran, yang dengan kekuatan Allah, dapat membalikkan segala tipu daya musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin menjadi kebinasaan bagi musuh-musuh itu.
﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ
“Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri.” (TQS Fathir [35]: 43)

Saudara-saudara yang dimuliakan,
Sesungguhnya perkara al-Khilafah al-Islamiyah amatlah agung dan posisinya sungguh sangat signifikan. Berdirinya tidak akan sekadar berita yang menjadi bahan ejekan media massa menyesatkan. Akan tetapi dengan izin Allah, berdirinya Khilafah akan menjadi ‘gempa’ menggema, yang membalikkan neraca internasional dan mengubah wajah dan arah sejarah… Sesungguhnya Khilafah akan kembali berupa Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagaimana yang disampaikan kabar gembiranya oleh Rasul saw. Maka orang-orang yang menegakkannya, mereka seperti orang-orang yang menegakkan Khilafah Rasyidah pertama, orang-orang yang bertakwa lagi bersih, mencintai umat dan umat mencintai mereka, mereka mendoakan umat dan umat pun mendoakan mereka. Umat merasakan kebahagiaan bertemu dengan mereka dan mereka merasakan kebahagiaan bertemu dengan umat; bukannya keberadaan mereka di tengah umat justru dibenci… Begitulah, mereka adalah ashhâbul khilâfah mendatang yang mengikuti manhaj kenabian. Allah akan memberikannya kepada orang yang memang layak untuknya. Dan sungguh kita memohon kepada Allah agar kita termasuk orang-orang yang layak itu dan termasuk orang-orang yang mengaturnya. Kita memohon kepada Allah SWT agar memberi karunia kepada kita dengan tegaknya al-Khilafah ar-Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian.
﴿فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ
“Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu…” (TQS alt-Tawbah [9]: 111)

Janganlah Anda berputus asa dari rahmat Allah, sehingga Allah tidak menyia-nyiakan untuk Anda wahai saudara-saudara yang dimuliakan, kelelahan yang telah Anda persembahkan. Allah tidak menolak permohonan yang Anda pinta dari-Nya, Allah tidak menggagalkan harapan yang Anda ajukan kepada-Nya. Maka tolonglah kita dengan meningkatkan kesungguhan dan pemberian. Perlihatkan kepada Allah dari diri Anda kebaikan, niscaya Allah menambah kebaikan untuk Anda. Jangan sampai ucapan main-main bisa memalingkan Anda dari perjuangan Anda yang penuh kesungguhan lagi jujur.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
3 Ramadhan 1435 H
1 Juli 2014 M
Selesai jabawan yang telah saya kirimkan sebelumnya.
Saya berharap jawaban ini mencukupi. Semoga Allah memberikan taufik kepada Anda dan menolong Anda. Dan semoga Allah memberi menunjuki kami dan Anda kepada perkara yang paling lurus.
Saudaramu
Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah
04 Ramadhan 1435 H
02 Juli 2014 M
==============================
Profile Amir Hizbut Tahrir:
http://www.youtube.com/watch?v=vJcjmn18Hzs
Jika Saudara/i ingin mengkaji Islam dan berdakwah bersama HIZBUT TAHRIR INDONESIA silahkan mengisi form yang kami sediakan di http://hizbut-tahrir.or.id/gabung/
Insya Allah, syabab Hizbut Tahrir di daerah terdekat akan segera menghubungi anda. (jika lebih dari 2 minggu, saudara/i bisa memberitahukan lewat pesan inbox)
==============================
Website : www.hizbut-tahrir.or.id
Youtube : http://www.youtube.com/htiinfokom
Facebook : https://www.facebook.com/Htiinfokom
Twitter : https://twitter.com/hizbuttahrirID
===============================

Khilafah Ajaran Islam, Bukan suatu Kejahatan

[Al-Islam edisi 717, 19 Syawal 1435 H-15 Agustus 2014 M]
Perbincangan tentang ISIS dan Khilafah menghangat di media massa dan di masyarakat akhir-akhir ini. Di antara pemicunya adalah peredaran salah satu video yang diunggah di Youtube. Video tersebut berisi seruan anggota ISIS dari Indonesia kepada umat Islam di Indonesia agar bergabung dengan organisasi itu.
Isu ISIS dan Khilafah pun bergulir. Banyak pihak berkomentar. Pemerintah meminta masyarakat mewaspadai dan mencegah organisasi itu berkembang. Kelompok sekular memanfaatkan isu itu untuk memukul apa yang mereka katakan sebagai paham radikal.
Sikap Proporsional

Bagi pihak yang tidak suka terhadap Islam, isu ISIS dijadikan sebagai kesempatan untuk menjauhkan masyarakat dari idekhilafah. Mereka kemudian menyimpangkan konsep khilafah dan melakukan ‘monsterisasi’ khilafah. Mereka berupaya menanamkan ketakutan atau paling tidak keengganan terhadap ide khilafah. Caranya dengan mengaitkan isu tersebut dengan terorisme, aksi kekerasan dan kejahatan. Mereka pun melekatkan keburukan pada ide khilafah. Isu ISIS di Indonesia dan ide khilafah yang terus diulang-ulang tanpa disertai penjelasan memadai tentu bisa menjadi bagian dari upaya ‘monsterisasi’ itu.

Semua pihak, khususnya Pemerintah, seharusnya menyikapi isu ISIS secara proporsional. Penolakan terhadap organisasi yang mengklaim telah mendeklarasikan Khilafah itu berikut berbagai tindakan kekerasan yang mereka lakukan jangan sampai diperalat oleh pihak-pihak tertentu, khususnya yang tidak suka terhadap Islam, untuk melakukan ‘monsterisasi’ syariah dan khilafah sehingga menjadi penolakan terhadap syariah dan khilafah. Upaya ‘monsterisasi’ itu malah dapat menimbulkan masalah baru karena bisa mengkriminalisasi ide khilafah yang bersumber dari ajaran Islam.

Khilafah: Ajaran Islam

Khilafah adalah ide Islam. Karena itu Khilafah harus didukung oleh umat. Khilafah bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas. Dalam Islam, Khilafah atau al-Imamah al-‘Uzhma merupakan perkara ma’lûmun min ad-dîn bi adh-dharûrah (telah dimaklumi sebagai bagian penting dari ajaran Islam).

Khilafah adalah kepemimpinan umum atas seluruh kaum Muslim di dunia guna menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Pengertian ini sekaligus menjelaskan muatan dari Khilafah yakni: ukhuwah, syariah dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariah Islam secarakaffah (menyeluruh). Dakwah artinya penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Tiga muatan inilah yang terangkum dalam kata khilafah. Karena itu Khilafah sebagai ajaran Islam harus didukung oleh umat Islam.

Secara historis pun, Khilafah telah membawa rahmat dan pengaruh besar bagi umat Islam di dunia, termasuk bagi negeri ini dan penduduknya. Perlu diingat, Khilafah berperan besar bagi penyebaran Islam di negeri ini sehingga penduduk negeri ini mendapat rahmat dari Allah SWT dengan mendapatkan petunjuk kepada Islam. Di antara para wali dan ulama yang menyebarkan Islam di negeri ini sebagiannya diutus dan difasilitasi oleh Khilafah pada masa itu, termasuk sebagian dari wali songo. Kesultanan-kesultanan Islam yang dulu memerintah dan memakmurkan negeri ini pun berhubungan erat dengan Khilafah pada masa masing-masing. Bahkan Khilafah pernah turut membantu perjuangan rakyat negeri ini melawan penjajah. Kesultanan Aceh, misalnya, pernah dibantu oleh Khilafah Utsmaniyah dengan senjata modern kala itu dan pasukan yang dipimpin oleh panglima Hizir Reis dalam menghadapi penjajah.

Kewajiban Menegakkan Khilafah

Kita telah diperintah untuk taat kepada Allah SWT dan melaksanakan syariah-Nya secara keseluruhan tanpa pilih-pilih. Kewajiban melaksanakan seluruh syariah itu memastikan kewajiban kaum Muslim untuk mengangkat imam (khalifah) dan menegakkan Khilafah. Allah SWT, misalnya, berfirman:

﴿وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا﴾

Terhadap pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, potonglah tangan keduanya… (TQS al-Maidah [5]: 38).

Imam Fakhrudin ar-Razi asy-Syafi’i menafsirkan ayat ini dalam tafsirnya, Mafâtih al-Ghayb: “Para mutakallimin ber-hujjahdengan ayat ini bahwa umat wajib mengangkat untuk diri mereka seorang imam (khalifah). Dalilnya, melalui ayat ini Allah SWT telah mewajibkan penegakan had (hukuman) atas pencuri dan pelaku kriminal. Tentu harus ada pihak yang diseru dengan seruan ini. Umat sepakat bahwa tidak ada seorang pun dari kalangan rakyat yang berhak menegakkanhudud terhadap para pelaku kriminal. Bahkan umat sepakat bahwa tidak boleh (haram) penegakan hudud atas orang merdeka pelaku kriminal kecuali oleh imam (khalifah). Taklif ini merupakan taklif jazim (tegas). Tak mungkin keluar dari ikatan taklif ini kecuali ketika ada imam (khalifah). Saat kewajiban itu tidak tertunaikan kecuali dengan keberadaan seorang imam (khalifah)—padahal itu masih dalam batas kemampuan mukallaf—maka keberadaan imam (khalifah) adalah wajib. Karena itu perkara ini memastikan kewajiban untuk mengangkat seorang imam (khalifah).”

Imam ‘Alauddin al-Kasani al-Hanafi dalam Badâ’iu ash-Shanâ’i (xiv/406) juga menyatakan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (khalifah) adalah fardhu tanpa ada perbedaan di antara ahlul-haq. Dalam hal ini, perbedaan sebagian kalangan Qadariyah tidak ada nilainya. Pasalnya, Sahabat radhiyalLah ‘anhum telah berijmak atas (kewajiban penegakan, red.) Khilafah…”

Imam an-Nawawi di dalam Syarhu Shahîh Muslim (vi/291) pun menegaskan: “Para ulama sepakat bahwa wajib atas kaum Muslim untuk mengangkat khalifah. Kewajiban mengangkat khalifah itu berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal. Adapun yang diceritakan dari al-‘Asham bahwa dia mengatakan Khilafah tidak wajib, juga dari selain dia bahwa Khilafah itu wajib menurut akal dan bukan syariah, maka kedua perkataan ini adalah batil.”

Syaikh Manshur al-Buhuti al-Hanbali dalam Kasysyaf al-Qinâ’ ‘an Matn al-Iqnâ’ (xxi/61) juga menegaskan: “Mengangkat Al-Imam al-A’zham (khalifah) bagi kaum Muslim adalah fardhu kifayah.

Pasalnya, manusia memerlukan itu untuk menjaga kesucian dan mempertahankan wilayah, menegakkan hudud, menunaikan hak-hak, memerintahkan kemakrufan dan melarang kemungkaran.”
Bahkan Imam Ibn Hajar al-Haytsami di dalam Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah (i/25) menegaskan: “Ketahuilah juga bahwa sesungguhnya para Sahabat radhiyalLah ‘anhum telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah lewatnya zaman kenabian adalah wajib. Mereka bahkan menjadikan kewajiban ini sebagai salah satu kewajiban yang paling penting (min ahammi al-wâjibât). Buktinya, mereka lebih menyibukkan diri untuk memilih dan mengangkat khalifah daripada menguburkan jenazah Rasulullah saw. Perbedaan mereka dalam menentukan (siapa yang menjadi khalifah) tidak menodai ijmak yang telah disebutkan itu.”

Harus Mengikuti Manhaj Kenabian

Khilafah yang dikehendaki oleh syariah itu adalah Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Islam telah menjelaskan metode pelaksanaan berbagai kewajiban, termasuk kewajiban menegakkan Khilafah ini. Karena itu menegakkan Khilafah‘ala minhaj an-Nubuwwah juga harus terikat dengan metode yang telah dijelaskan oleh Rasul saw. dalam sirah beliau. Metode ini merupakan hukum syariah yang wajib diikuti.

Di antara ketentuan metode itu adalah bahwa negeri tempat Khilafah ditegakkan haruslah memenuhi empat kriteria:

1. kekuasaan di wilayah itu haruslah otonom bersandar kepada kaum Muslim.

2. Keamanannya harus terjamin dengan keamanan kaum Muslim. Perlindungan di dalam dan luar negeri harus pula dengan perlindungan Islam, berasal dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam saja.

3. Orang yang dibaiat menjadi khalifah harus memenuhi syarat in’iqad (legal).

4. Segera secara langsung menerapkan syariah Islam secara keseluruhan dan mengemban dakwah Islam. Artinya, Khalifah yang dibaiat itu harus berada di tengah-tengah rakyat (tidak terus bersembunyi); memelihara urusan mereka, menyelesaikan problem mereka serta melaksanakan tugas pemerintahan dan ri’ayah seluruhnya sebagaimana yang disyariatkan.

Keempat kriteria itu belum terpenuhi pada khilafah yang telah diklaim deklarasinya oleh ISIS. Karena itu khilafah ala ISIS tidak bisa dianggap sebagai khilafah yang syar’i. Konsekuensinya, semua hak dan kewajiban syar’i terkait khilafah itu juga belum bisa direalisasi. Dengan kata lain, Khilafah yang syar’i belum terwujud.
Khilafah adalah kewajiban terpenting. Karena itu kaum Muslim wajib turut serta aktif dalam menegakkan Khilafah. Mereka tidak boleh menjauhi, menolak apalagi sampai menghalangi upaya penegakan Khilafah. Tindak demikian merupakan dosa besar.

Hanya saja, upaya penegakan Khilafah tetap harus mengikuti metode yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. untuk kita, yakni melalui dakwah fikriyah wa siyasiyah (pemikiran dan politik) tanpa kekerasan. Caranya adalah melalui aktivitas pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi bersama umat dan thalab an-nushrah (menggalang dukungan para pemilik kekuasaan). Perjuangan itu pasti berhasil pada saatnya karena itu merupakan janji Allah. Allah SWT berfirman:

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ…﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal salih di antara kalian bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi… (TQS an-Nur [24]: 55).
Ketika kekuasaan Islam terwujud, ia akan menebarkan rahmat. Sayyid Quthub di dalam Fî Zhilâl al-Qur’ân menjelaskan: “Sesungguhnya dijadikan berkuasa di muka bumi itu adalah kemampuan untuk membangun dan memperbaiki, bukan menghancurkan dan merusak; kemampuan mewujudkan keadilan dan ketententeraman, bukan kezaliman dan penindasan; kemampuan meninggikan jiwa manusiawi dan sistem manusiawi, bukan untuk membenamkan individu dan komunitas pada derajat hewan…”

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Jubir HTI: Pemerintah Harus Sikapi ISIS dan Khilafah Secara Proporsional

Jubir HTI: Pemerintah Harus Sikapi ISIS dan Khilafah Secara Proporsional
August 6th, 2014 by kafi
Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto menyatakan pemerintah harus proporsional menyikapi ISIS dan khilafah. “Ini yang menurut saya pemerintah harus menyikapinya secara proporsional. Dalam arti bahwa bisa saja pemerintah tidak setuju dengan organisasi yang bernama ISIS tetapi jangan sampai kemudian penolakan terhadap ISIS itu menjadi penolakan terhadap ide khilafah,” ungkapnya kepada mediaumat.com, Selasa (5/8) melalui ponsel.

Menurutnya, jangan sampai isu pendeklarasian khilafah oleh ISIS dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan monsterisasi terhadap ide khilafah. “Monsterisasi ini menurut saya akan menimbulkan komplikasi, alih-alih akan menyelesaikan masalah ISIS, malah menimbulkan masalah baru karena mengkriminalisasi ide yang bersumber dari ajaran Islam,” tegasnya.

Khilafah Ajaran Islam

Ismail menjelaskan khilafah adalah ide Islam sehingga umat Islam wajib mendukungnya. Khilafah bersumber dari Alquran, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Dan yang substansi dari ide khilafah itu ukhuwah, syariah dan dakwah. Ukhuwah artinya persatuan umat Islam seluruh dunia. Syariah artinya penerapan syariat Islam secara kaffah. Dakwah artinya menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia.

“Tiga substansi inilah yang terangkum dalam kata ‘khilafah’ maka tidak ada yang buruk dari ide khilafah karena ini bersumber dari sumber ajaran Islam makanya wajib didukung oleh umat Islam,” ungkapnya.

Khilafah yang Dideklarasikan ISIS tidak Syar’i

Terkait pendeklarasian khilafah oleh ISIS, Ismail juga menyatakan HTI berpendapat sebagaimana pernyataan resmi Amir Hizbut Tahrir Syeikh Atha Abu Rashta. “Deklarasi yang dilakukan ISIS tidak bisa dianggap deklarasi yang absah secara syar’i. Karena dia tidak memenuhi empat kriteria sekaligus!” tegasnya.

Pertama, mestinya kekhilafahan itu memiliki wilayah secara otonom. Sedangkan yang dikuasai oleh ISIS adalah sebagian wilayah Suriah dan sebagian wilayah Irak. Jadi wilayah itu sesungguhnya masih berada di dalam kewenangan Suriah dan Irak. “Mereka menguasai wilayah itu secara militer iya, tetapi belumlah bisa dikatakan menguasai wilayah itu secara otonom,” beber Ismail.

Kedua, keamanannya belum sepenuhnya di tangan kaum Muslimin. Dan ini menunjukkan bahwa mereka belum dapat sepenuhnya mempertahankan wilayah tersebut karena masih harus berhadapan dengan penguasa yang dianggap sah menguasai wilayah itu.

Ketiga, menerapkan syariat Islam secara kaaffaah.

Keempat, khalifahnya sendiri harus memenuhi tujuh syarat pengangkatan khalifah, yaitu: muslim; baligh; laki-laki; merdeka; berakal; mampu dan adil (tidak fasik).

“Karenanya Hizbut Tahrir, tidak mengakui keabsahan deklarasi khilafah oleh ISIS tersebut,” tegasnya. (mediaumat.com, 6/8/2014)

Sabtu, 02 Agustus 2014

Surat Dari Seorang Muslimah Gaza : Sebuah pesan untuk Umat yang Mulia

Surat Dari Seorang Muslimah Gaza : Sebuah pesan untuk Umat yang Mulia

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya memulai dengan memanjatkan puji kepadaMu Ya Allah Swt dengan keagungan dan kebesaran kuasa-Mu, saya adalah hamba perempuan yang sangat membutuhkan Engkau, saya memohon dengan kata-kata RasulMu, sang manusia terbaik.

Tiada Penolong selain Engkau dan aku tidak memerlukan siapapun selain Engkau.

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia.

Ya Arhamar-Rahimin, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada siapa aku akan mengadu, apakah kepada seseorang yang sangat jauh yang menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh yang menguasai urusanku?.

Jika saja kemurkaan-Mu tidak akan menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku.

Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat; dari kemarahan-Mu yang akan menimpaku atau kemurkaan-Mu yang akan melanda.

Kuserahkan kepada-Mu seluruh kesulitanku hingga Engkau ridha, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.”

Wahai Umat yang mulia,

Hari ini. saya tidak akan berbicara sambil menangisi penderitaan tentang situasi kami di Gaza.

Saya juga tidak akan berbicara tentang kenyataan yang menimpa kami karena apa yang Anda lihat di televisi jauh lebih bisa bercerita dibandingkan kata-kata saya.

Erangan dan ratapan dari orang-orang yang kehilangan, serta dari para ibu dan anak yang Anda dengar sudah cukup untuk menghancurkan hati Anda karena rasa sakit dan kesedihan yang mencerminkan kondisi mereka, keadaan rakyat Gaza.

Saya juga tidak akan berbicara di sini untuk memohon belas kasihan dari Anda yang menumpahkan air mata Anda.

Sebaliknya, saya akan memanggil Anda sebagai Umat yang mulia dan bermartabat yang mengangkat kepalanya ke arah langit, yang tidak dirugikan oleh mereka yang merendahkannya.

Demi Allah bahkan jika manusia dan jin bersatu untuk menyakiti kita, mereka tidak akan membahayakan kita kecuali jika ditakdirkan oleh Allah, dan jika mereka bersatu untuk memberikan manfaat bagi kita, mereka hanya akan bermanfaat jika ditakdirkan oleh Allah, dan kita meyakini bahwa kemenangan hanya ada di tangan Allah saja.

Namun demikian, hari ini saya menulis surat ini kepada Anda untuk merenungkan (mempertanyakan) tentang keadaan umat, sebuah umat yang mulia, bermartabat, dan terhormat.

Suatu Umat yang selama berabad-abad mendominasi dunia, dan menjadi umat terbaik diantara bangsa-bangsa.

Suatu bangsa yang menyusupkan ketakutan ke dalam hati musuh-musuhnya dengan kata-katanya, terlebih dengan tindakan-tindakannya!

Wahai Umat yang mulia, Wahai bangsa terbaik yang dilahirkan atas manusia!

Celakalah umat, yang Nabi dan pemimpinnya adalah Muhammad SAW yang memerintahkan mereka untuk menolong saudara-saudara mereka -baik ia adalah penindas ataupun tertindas- hingga mereka menaati perintah Beliau (SAW), tetapi bukannya menolong dalam segala situasi, sebaliknya mereka melampaui batas dalam pelanggaran hukum.

Menyedihkan. Inilah keadaan suatu Umat keturunan Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid, Ali, Alqa’qa’, dan Al-Mutasim, Demi Allah apakah Anda tidak malu!

Celakalah sebuah umat yang agamanya telah disempurnakan, dan nikmatnya telah dipenuhi, dan Islam telah diridhoi sebagai Agamanya, namun yang saya lihat hari ini, ia menolak apa yang telah Demi Allah, bagaimana Anda akan bertanggungjawab atas syahidnya anak-anak, perempuan, dan orang-orang tua Gaza ketika Anda ditanya saat berdiri di jembatan as-sirath?

Di mana Anda ketika kami sedang dibantai?

Di mana Anda ketika kami dibunuh, tak ada rasa aman, perlindungan, perisai, juga Penggembala?

Dan Anda, Wahai para ulama,

Wahai pelayan-pelayan Dien ini…

Sikap diam seribu bahasa dan sikap tak adil yang Anda berikan kepada kami itu lebih kuat dan lebih keras menancap hati kami, dan lebih menghinakan daripada bom-bom dan roket-roket, juga menyaksikan tubuh anak-anak kami hancur terkoyak.

Demi Allah, Anda akan ditanyai atas seluruh apa yang Anda lakukan dan yang Anda katakan dan bahkan atas apa yang Anda diamkan.

Doa-doa Anda tidak cukup bagi kami, tidak juga uang yang Anda kumpulkan untuk kami.

Saya bersumpah demi Allah bahwa uang Anda tidak akan mengembalikan anak-anak kami, ibu-ibu kami, ayah-ayah kami, saudara laki-laki kami, atau sekedar memuaskan hati kami.

Demi Allah kami tidak akan mengampuni Anda selama kami hidup dan Allah tidak akan melupakan bagaimana Anda mengabaikan dan menindas kami.

Oleh karena itu, Wahai Umat yang mulia…

Berpikirlah bahwa bukan uang Anda, bantuan makanan, dan obat-obatan yang akan membebaskan Anda dari kekecewaan mendalam kami terhadap Anda, karena ia tidak bermanfaat sedikitpun ketika tiba masa ketakutan di depan mata anak-anak kami yang menanti maut dan deru bom di hadapan mata, mendengar suara pesawat di langit, atau artileri yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.

Demi Allah, sungguh lebih ringan bagi kami mati kelaparan atau karena wabah penyakit daripada Anda menyerahkan kami kepada orang-orang Yahudi sebagai hadiah di piring pengkhianatan dan darah.

Anda harus paham, kami tidak lagi menerima omong kosong dan tidak akan tertipu oleh tipu muslihat atau oleh air mata buaya Anda.

Kami tahu betul bahwa Anda dapat menolong kami lebih dari apa yang Anda lakukan sekarang, tetapi Anda tidak bersedia melakukannya.

Apakah Anda tahu bagaimana caranya??

Izinkan saya untuk memberitahu Anda tentang apa yang sebenarnya Anda ketahui dengan baik:

Anda memiliki tentara yang dapat mematahkan tentara Yahudi tetapi mengapa Anda membelenggu mereka dengan kebijakan tangan besi??

Anda memiliki pesawat-pesawat yang bisa menghancurkan pesawat tempur Yahudi, mengapa Anda mengunci mereka di Bandara dan tidak mengirimkan mereka untuk menghancurkan benteng-benteng besar Yahudi??

Dan Anda memiliki roket, tank, dan bom yang bisa mengguncang entitas Yahudi, lantas mengapa tidak mengeluarkannya dari gudang penyimpanan sebelum dimakan oleh karat?

Oleh karena itu, umatku yang mulia…

Anda memiliki seluruh sarana untuk kemenangan, yang memungkinkan Anda untuk mengakhiri entitas tirani Zionis tetapi Anda malah menjadi saudara-saudara mereka sekaligus menjadi musuh-musuh kami.

Anda mendukung mereka dengan sikap diam Anda dan dan posisi tak bergerak Anda terhadap kami.

Anda mendukung mereka dengan menundukkan diri kepada para pemimpin meruahan Anda, yang merupakan beban berat bagi hati Anda dan hati kami.

Anda mendukung musuh dengan ketakutan Anda atas ancaman penjara-penjara tiran dan penahanan oleh pemerintah boneka. Oh, Anda bagaikan perempuan dengan imamah dan jenggot!

Apakah Anda sekarang telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perlawanan dari para mujahidin di Gaza telah mengguncang keamanan Yahudi dengan peralatan, yang bahkan tidak layak dibandingkan dengan musuh?!

Tidakkah ini memotivasi Anda, dengan mengungkapkan kepada Anda bahwa entitas Yahudi itu lebih tipis dari jaring laba-laba?!

Tidakkan ini membangkitkan kekuatan Anda, meski hanya sesaat saja, sebagai orang beriman yang meyakini bahwa Allah adalah Penolong?!

﴿فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS al-Anfaal (8):17]

Demi Allah Yang Esa dan Satu-satunya!

Setiap Muslim Timur atau Barat, akan dimintai perhitungan atas setiap tetes darah murni yang mengalir dari anak tidak bersalah, atau perempuan yang berduka, atau seorang pria tua yang tertindas.

Ketahuilah bahwa Allah Mahakuasa atas urusan-urusan-Nya, dan hari itu akan datang, ketika orang-orang kafir dan rakyatnya akan dihinakan, Islam dan umatnya akan dimuliakan, dan hal ini bukanlah perkara yang berat bagi Allah.

﴿وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ﴾

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [QS asy-Syu’araa (26):227]

Ditulis untuk Kantor Berita Pusat Hizbut Tahrir oleh
Seorang hamba muslimah Gaza yang membutuhkan Rabb-nya (Swt)

sumber: hizbut-tahrir.or.id
Foto: ‎Surat Dari Seorang Muslimah Gaza : Sebuah pesan untuk Umat yang Mulia

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya memulai dengan memanjatkan puji kepadaMu Ya Allah Swt dengan keagungan dan kebesaran kuasa-Mu, saya adalah hamba perempuan yang sangat membutuhkan Engkau, saya memohon dengan kata-kata RasulMu, sang manusia terbaik.

Tiada Penolong selain Engkau dan aku tidak memerlukan siapapun selain Engkau.

“Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia.

Ya Arhamar-Rahimin, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada siapa aku akan mengadu, apakah kepada seseorang yang sangat jauh yang menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh yang menguasai urusanku?. 

Jika saja kemurkaan-Mu tidak akan menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku.

Aku berlindung dengan Nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan memperbaiki urusan dunia dan akhirat; dari kemarahan-Mu yang akan menimpaku atau kemurkaan-Mu yang akan melanda. 

Kuserahkan kepada-Mu seluruh kesulitanku hingga Engkau ridha, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu.”

Wahai Umat yang mulia,

Hari ini. saya tidak akan berbicara sambil menangisi penderitaan tentang situasi kami di Gaza.

Saya juga tidak akan berbicara tentang kenyataan yang menimpa kami karena apa yang Anda lihat di televisi jauh lebih bisa bercerita dibandingkan kata-kata saya. 

Erangan dan ratapan dari orang-orang yang kehilangan, serta dari para ibu dan anak yang Anda dengar sudah cukup untuk menghancurkan hati Anda karena rasa sakit dan kesedihan yang mencerminkan kondisi mereka, keadaan rakyat Gaza.

Saya juga tidak akan berbicara di sini untuk memohon belas kasihan dari Anda yang menumpahkan air mata Anda.

Sebaliknya, saya akan memanggil Anda sebagai Umat yang mulia dan bermartabat yang mengangkat kepalanya ke arah langit, yang tidak dirugikan oleh mereka yang merendahkannya.

Demi Allah bahkan jika manusia dan jin bersatu untuk menyakiti kita, mereka tidak akan membahayakan kita kecuali jika ditakdirkan oleh Allah, dan jika mereka bersatu untuk memberikan manfaat bagi kita, mereka hanya akan bermanfaat jika ditakdirkan oleh Allah, dan kita meyakini bahwa kemenangan hanya ada di tangan Allah saja.

Namun demikian, hari ini saya menulis surat ini kepada Anda untuk merenungkan (mempertanyakan) tentang keadaan umat, sebuah umat yang mulia, bermartabat, dan terhormat.

Suatu Umat yang selama berabad-abad mendominasi dunia, dan menjadi umat terbaik diantara bangsa-bangsa.

Suatu bangsa yang menyusupkan ketakutan ke dalam hati musuh-musuhnya dengan kata-katanya, terlebih dengan tindakan-tindakannya!

Wahai Umat yang mulia, Wahai bangsa terbaik yang dilahirkan atas manusia!

Celakalah umat, yang Nabi dan pemimpinnya adalah Muhammad SAW yang memerintahkan mereka untuk menolong saudara-saudara mereka -baik ia adalah penindas ataupun tertindas- hingga mereka menaati perintah Beliau (SAW), tetapi bukannya menolong dalam segala situasi, sebaliknya mereka melampaui batas dalam pelanggaran hukum.

Menyedihkan. Inilah keadaan suatu Umat keturunan Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid, Ali, Alqa’qa’, dan Al-Mutasim, Demi Allah apakah Anda tidak malu!

Celakalah sebuah umat yang agamanya telah disempurnakan, dan nikmatnya telah dipenuhi, dan Islam telah diridhoi sebagai Agamanya, namun yang saya lihat hari ini, ia menolak apa yang telah Demi Allah, bagaimana Anda akan bertanggungjawab atas syahidnya anak-anak, perempuan, dan orang-orang tua Gaza ketika Anda ditanya saat berdiri di jembatan as-sirath?

Di mana Anda ketika kami sedang dibantai?

Di mana Anda ketika kami dibunuh, tak ada rasa aman, perlindungan, perisai, juga Penggembala?

Dan Anda, Wahai para ulama,

Wahai pelayan-pelayan Dien ini…

Sikap diam seribu bahasa dan sikap tak adil yang Anda berikan kepada kami itu lebih kuat dan lebih keras menancap hati kami, dan lebih menghinakan daripada bom-bom dan roket-roket, juga menyaksikan tubuh anak-anak kami hancur terkoyak.

Demi Allah, Anda akan ditanyai atas seluruh apa yang Anda lakukan dan yang Anda katakan dan bahkan atas apa yang Anda diamkan.

Doa-doa Anda tidak cukup bagi kami, tidak juga uang yang Anda kumpulkan untuk kami.

Saya bersumpah demi Allah bahwa uang Anda tidak akan mengembalikan anak-anak kami, ibu-ibu kami, ayah-ayah kami, saudara laki-laki kami, atau sekedar memuaskan hati kami.

Demi Allah kami tidak akan mengampuni Anda selama kami hidup dan Allah tidak akan melupakan bagaimana Anda mengabaikan dan menindas kami.

Oleh karena itu, Wahai Umat yang mulia…

Berpikirlah bahwa bukan uang Anda, bantuan makanan, dan obat-obatan yang akan membebaskan Anda dari kekecewaan mendalam kami terhadap Anda, karena ia tidak bermanfaat sedikitpun ketika tiba masa ketakutan di depan mata anak-anak kami yang menanti maut dan deru bom di hadapan mata, mendengar suara pesawat di langit, atau artileri yang siap menyerang kapanpun dan dimanapun.

Demi Allah, sungguh lebih ringan bagi kami mati kelaparan atau karena wabah penyakit daripada Anda menyerahkan kami kepada orang-orang Yahudi sebagai hadiah di piring pengkhianatan dan darah.

Anda harus paham, kami tidak lagi menerima omong kosong dan tidak akan tertipu oleh tipu muslihat atau oleh air mata buaya Anda.

Kami tahu betul bahwa Anda dapat menolong kami lebih dari apa yang Anda lakukan sekarang, tetapi Anda tidak bersedia melakukannya.

Apakah Anda tahu bagaimana caranya??

Izinkan saya untuk memberitahu Anda tentang apa yang sebenarnya Anda ketahui dengan baik:

Anda memiliki tentara yang dapat mematahkan tentara Yahudi tetapi mengapa Anda membelenggu mereka dengan kebijakan tangan besi??

Anda memiliki pesawat-pesawat yang bisa menghancurkan pesawat tempur Yahudi, mengapa Anda mengunci mereka di Bandara dan tidak mengirimkan mereka untuk menghancurkan benteng-benteng besar Yahudi??

Dan Anda memiliki roket, tank, dan bom yang bisa mengguncang entitas Yahudi, lantas mengapa tidak mengeluarkannya dari gudang penyimpanan sebelum dimakan oleh karat?

Oleh karena itu, umatku yang mulia…

Anda memiliki seluruh sarana untuk kemenangan, yang memungkinkan Anda untuk mengakhiri entitas tirani Zionis tetapi Anda malah menjadi saudara-saudara mereka sekaligus menjadi musuh-musuh kami.

Anda mendukung mereka dengan sikap diam Anda dan dan posisi tak bergerak Anda terhadap kami.

Anda mendukung mereka dengan menundukkan diri kepada para pemimpin meruahan Anda, yang merupakan beban berat bagi hati Anda dan hati kami.

Anda mendukung musuh dengan ketakutan Anda atas ancaman penjara-penjara tiran dan penahanan oleh pemerintah boneka. Oh, Anda bagaikan perempuan dengan imamah dan jenggot!

Apakah Anda sekarang telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perlawanan dari para mujahidin di Gaza telah mengguncang keamanan Yahudi dengan peralatan, yang bahkan tidak layak dibandingkan dengan musuh?!

Tidakkah ini memotivasi Anda, dengan mengungkapkan kepada Anda bahwa entitas Yahudi itu lebih tipis dari jaring laba-laba?!

Tidakkan ini membangkitkan kekuatan Anda, meski hanya sesaat saja, sebagai orang beriman yang meyakini bahwa Allah adalah Penolong?!

﴿فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَـٰكِنَّ اللَّـهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَاءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّـهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS al-Anfaal (8):17]

Demi Allah Yang Esa dan Satu-satunya!

Setiap Muslim Timur atau Barat, akan dimintai perhitungan atas setiap tetes darah murni yang mengalir dari anak tidak bersalah, atau perempuan yang berduka, atau seorang pria tua yang tertindas.

Ketahuilah bahwa Allah Mahakuasa atas urusan-urusan-Nya, dan hari itu akan datang, ketika orang-orang kafir dan rakyatnya akan dihinakan, Islam dan umatnya akan dimuliakan, dan hal ini bukanlah perkara yang berat bagi Allah.

﴿وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ﴾

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [QS asy-Syu’araa (26):227]

Ditulis untuk Kantor Berita Pusat Hizbut Tahrir oleh
Seorang hamba muslimah Gaza yang membutuhkan Rabb-nya (Swt)

sumber: hizbut-tahrir.or.id

*Beri komentar dan mari sebarkan informasi ini kepada yang lainnya. Jazakumullahu khairan katsiron*‎